Gong Perdamaian Dunia

Gong Perdamaian Dunia atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai World Peace Gong adalah sebuah gong berukuran besar yang berfungsi sebagai simbol perdamaian dunia. Monumen fisik ini menjadi ikon dan pengingat akan pentingnya perdamaian, persaudaraan, dan persatuan bagi seluruh umat manusia di bumi.

Mengenai sejarah dan penciptaannya, gagasan ini dicetuskan oleh Presiden World Peace Committee 202 Negara, Bapak Djuyoto Suntani atau nama asli Jujuk Juyoto, yang lahir di Jepara, Jawa Tengah. Ide pembuatan gong ini muncul sebagai respons terhadap peristiwa Bom Bali pada akhir tahun 2002. Gong ini dibuat pada akhir tahun 2002 dengan bahan baku perunggu kualitas terbaik yang didatangkan dari para pengrajin gamelan di Gunung Muria, Jawa Tengah. Konsep Gong Perdamaian Dunia terinspirasi dari sebuah Gong Keramat berusia lebih dari 450 tahun yang terletak di Desa Plajan, Jepara, yang konon digunakan sebagai sarana dakwah oleh seorang wali dari Kerajaan Demak.

Mengenai peresmian dan pukulan pertama, Gong Perdamaian Dunia untuk pertama kalinya dipukul oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri dan Wakil Presiden RI Hamzah Haz pada tanggal 31 Desember 2002 pukul 00.00 WITA di Bali. Pukulan kedua dilakukan oleh Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan pada tanggal 5 Februari 2003 di Jenewa, Swiss.

Tujuan utama dari Gong Perdamaian Dunia adalah untuk menggalang perdamaian dan mengakhiri berbagai bentuk konflik dan penderitaan di dunia, seperti perang, konflik SARA atau Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan, serta terorisme. Secara lebih luas, gong ini diharapkan menjadi sarana yang mempersatukan seluruh umat manusia di muka bumi.

Mengenai lokasi dan penyebarannya, Gong Perdamaian Dunia bukan hanya satu monumen, melainkan sebuah gerakan global dengan monumen yang tersebar di berbagai negara. Monumen pertama ditempatkan di tengah Desa Budaya Kertalangu, Denpasar, Bali. Hingga tahun 2020, gong ini telah dibangun secara permanen di 52 negara. Beberapa lokasi yang diketahui antara lain di Indonesia yaitu Bali, Ambon, Palu, Ciamis di Jawa Barat, dan Jepara di museumnya. Di tingkat internasional, gong ini terdapat di Penglai, Shandong di Tiongkok, New Delhi di India, Maputo di Mozambik, dan Vientiane di Laos.

Dari segi simbolisme dan desain, Gong Perdamaian Dunia dirancang dengan berbagai elemen simbolis yang kuat. Diameter gong bervariasi, mulai dari 2 meter hingga 3,3 meter. Di bagian tengah gong terdapat peta permukaan bumi yang melambangkan bahwa perdamaian harus terwujud di seluruh dunia. Lingkaran kedua pada gong dihiasi dengan simbol 10 agama besar di dunia untuk menandakan kerukunan antar umat beragama. Pada beberapa monumen, terdapat 202 bendera negara-negara di dunia yang ditempelkan untuk melambangkan persatuan bangsa-bangsa. Di lokasi monumen di Bali, terdapat patung dari tokoh-tokoh dunia yang berjasa memperjuangkan perdamaian, seperti Soekarno, Mikhail Gorbachev, Mother Teresa, Kofi Annan, dan Barack Obama.

Di beberapa daerah, Gong Perdamaian Dunia memiliki nama khas yang sarat makna. Di Palu, Sulawesi Tengah, gong ini diberi nama Nosarara Nosabatutu. Dalam bahasa Kaili, nama ini berarti bersaudara dan bersatu. Gong di Palu diresmikan sebagai upaya mencegah terulangnya konflik sosial seperti yang pernah terjadi di Poso.

Sebagai sebuah monumen, Gong Perdamaian Dunia adalah lebih dari sekadar benda. Ia adalah sebuah pernyataan, pengingat, dan harapan bagi perdamaian abadi di seluruh dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini